Deburan Ombak dan Birunya Pulau SATORINI

Deburan Ombak dan Birunya Pulau SATORINI

Bagi pecinta traveling, Santorini yang berada di kepulauan Yunani ini mempunyai keistimewaan. Selain lokasi yang menawan, juga hamparan lautan biru serta keindahan alamnya menjadi magnet yang menggugah hasrat. Kapal-kapal pesiar di wilayah Laut Tengah-Mediterania, banyak menyinggahi Pulau yang bentuknya sangat unik ini. Terbentuk dari sisa sebuah gunung berapi di tengah laut, di mana dalam 2 juta tahun terakhir telah meletus sebanyak 12 kali. Akibat dari letusan-letusan dahsyat itulah pulau ini akhirnya mendapatkan bentuk seperti sekarang, terbentang seperti bulan sabit. Mengelilingi laguna raksasa di kepulauan Cyclades, Santorini menjadi laris manis dipadati oleh wisatawan mancanegara, terutama di pertengahan Juni sebagai puncaknya.

Tepat pukul 16.00 waktu setempat, kapal pesiar Orient Quint Cruise berlabuh di pelabuhan Santorini Yunani, setelah 28 jam menempuh perjalanan dari pelabuhan Kusadasi (Turki). Perjalanan panjang tidak terasa karena kapal pesiar ini sebelumnya berlabuh di Pulau Patmos (pukul 16.00), dan singgah di Pulau Crete (pukul 06.00-1100) yang masih berada di wilayah Yunani. Sayangnya kesempatan berjalan -jalan di Santorini menjadi sangat terbatas, hanya disediakan waktu 4 jam saja. Hal ini disebabkan Cruise akan melanjutkan perjalanan lagi menuju Kota Athena, dan berlabuh di pelabuhan Piraeus, keesokan harinya.

Deburan Ombak dan Birunya Pulau SATORINI

Dengan boat yang lebih kecil, kami diangkut dari Cruise menuju pelabuhan Fira. Saya tidak mau menyia-nyiakan waktu, saya bergegas naik menuju lokasi, sebelum matahari terbenam. Untuk naik ke atas dapat dicapai dengan naik kuda – atau dengan naik cable car, seharga 12 euro. Kami memutuskan naik cable car supaya lebih cepat. Antrian cukup tertib, tersedia sekitar 10 cable car yang masing masing bisa mengangkut 6 orang. Perjalanan naik ditempuh selama 10 menit, ditarik dengan mesin ke atas, tampak dari balik kaca terbentang keindahan bangunan putih yang mendominasi langit biru, sementara kalau mata memandang ke bawah tampaklah hamparan lautan biru, dengan sosok Cruise yang bersandar di kejauhan.

Deburan Ombak dan Birunya Pulau SATORINI

Nama Santa Irena menjadi akrab dengan sebutan Santorini

Menurut legenda mitologi Yunani, pulau ini terbentuk dari sebongkah tanah yang dilempar ke laut dari Argo kapal. Dalam sejarahnya, pulau Santorini pernah menjadi wilayah koloni dari kerajaan Sparta (sekarang terletak di Semenanjung Peloponnes Yunani). Orang Sparta yang kemudian memberi nama pulau ini Thira - "the wild". Di kemudian hari, datanglah Kerajaan Venesia (sekarang di Italia) yang membangun sebuah gereja kecil di pulau tersebut, dengan nama “Santa Irene”, atau dalam bahasa Yunani: Agia Irini, dan akhirnya pulau ini lebih akrap disebut dengan sebutan pulau Santorini, yang terkenal namanya seantero dunia, dibandingkan nama resminya Thira. Namun begitu sejak berdirinya negara Yunani modern , nama resmi yang dipakai adalah “Thira”.

Santorini hanya memiliki panjang sekitar 17 km dengan lebar 6 km sehingga dengan mobil bisa menjangkau segala penjuru pulau hanya dalam waktu 50 menit.

Melihat kota Oia di tepi laut

Salah satu bagian yang tidak boleh dilupakan, adalah mengunjungi Kota Oia. Di sini terdapat jurang terjal dengan ketinggian sekitar 300 m. Awalnya merupakan kaldera gunung berapi, sekarang menjadi tempat favorit, karena pemandangannya yang menawan serta terdapat bangunan unik di tepi laut. Seperti dinding raksasa yang muncul dari permukaan laut. Di Kota Oia, wisatawan dapat melihat rumah seperti goa, dengan pemandangan asri yang memukau. Awalnya rumah goa adalah rumah desa, sekarang dipertahankan dengan warna putih. Atapnya yang unik mencerminkan bangunan khas arsitektur tradisional Yunani. Kata pemandu wisata kami, bangunan berciri goa dapat mempertahankan suhu dengan stabil. Ketika panas tidak terasa panas dan ketika dingin tidak terlalu dingin. Berjalan mengelilingi kota Oia dan menantikan matahari tenggelam merupakan momen yang menarik Dapat dilihat di atas perahu atau sambil duduk di sekitar cafe-cafe yang ada.

Deburan Ombak dan Birunya Pulau SATORINI

Sisi lain dari pulau ini terbentuk oleh lereng gunung yang “relatif landai”. Sekarang sisi ini masih dapat ditemukan kehidupan desa tradisional Santorini dengan kebun-kebun anggur, tanaman tomat dan buah zaitun. Konon Santorini terkenal juga dengan anggurnya. Ada pabrik Santo Winerry berdiri di sana, pengunjung dapat mencicipi berbagai jenis anggur, menentukan pilihan yang pas dan membawa pulang sebagai oleh oleh khas.

Di Santorini modern biasanya kita akan menemukan keledai sebagai atraksi turis, atau sebagai hewan tunggangan di jalan setapak yang menelusuri dinding kaldera. Atraksinya hiking di sepanjang kaldera dengan pemandangan menakjubkan antara Fira, Oia, Firostefani dan Imerovigli yang menjadi lokasi menarik. Semua ini diselingi oleh pantai-pantai yang sangat mengundang mata untuk terus memandang keindahan panorama di Laut Tengah. Pantai Merah dan Pantai Putih yang dekat Arkrotiri, cocok untuk berenang, scuba diving atau sekedar snorkeling. Daerah temuan arkeologis Thira kuno – dekat Kamari, menarik untuk dikunjungi. Arsitektur berwarna putih penuh lengkungan artistik serta bangunan gereja ortodoks dengan kubah biru merupakan ciri khas menonjol pulau ini yang terus dipertahankan dan merupakan salah satu dari 10 distinasi favorit yang ditawarkan.

Deburan Ombak dan Birunya Pulau SATORINI

Senja menjadi bagian dari malam, saatnya matahari turun keperaduan dan kami pun harus kembali. Mobil mengantar ke lokasi terdekat, dan dengan cable car kami kembali turun, dilanjutkan dengan menumpang boat kecil menuju cruise. Sampai di cruise kami langsung menyantap hidangan makan malam, yang disajikan di dek 6, tepatnya di Marmaid Restro. Setelah dinner kami menuju ke kamar masing masing untuk mandi, dan beristirahat guna mengumpulkan tenaga untuk esok hari. Tentu saja mimpi indah mengiringi malam ini......yang bertutur indahnya Santorini.