Praja Impian Di Tepi Bengawan Kahayan

Di tengah belantara Kalimantan, pernah ada sebuah kota cantik yang diimpikan pendiri bumi pertiwi menjadi ibukota negeri. Kota yang bermakna “tempat yang mulia” ini dilahirkan untuk mementaskan pesona. Tertarik menjelajahinya?

Kertas sejarah memang mencatat Palangka Raya awalnya didirikan dari kisah “penerawangan” Sang Putra Fajar, Bung Karno tentang kota impian. Namun seiring roda waktu yang bergulir kerinduan di awal kemerdekaan itu seolah tergilas dinamisnya situasi politis. Kota di tepian sungai Kahayan ini nyatanya masi mendekam rapi dibalik panggung pesona. Tak hanya jauh dari semarak publisitas. Keberadaannyapun tak tertangkap radar pelancongan. Hanya pelaku usaha dan aparatur dinas yang pernah menyambanginya.

Namun dibalik itu, bagi saya Palangkaraya tak cuma kisah mimpi Bung Karno belaka. Tapi ia adalah penebar kenangan masa kecil yang sulit dilupa. Masi terekam ingatan bersepeda hingga bermain bola menggulirkan si kulit bundar di atas tanahnya yang khas putih berkilau karena didominasi pasir kuarsa. Terbayang damainya kota yang masih dikitari hijaunya rimba. Bersendau gurau di desa terapung Flamboyan memandang lalu lalang perahu kelotok dari atas dermaga kayu ulin yang menjorok ke tengah sungai. Panas terik menyengat khas tanah Borneo, kami lalu menyeruput es lilin berbahan campuran susu dan kelapa yang dibeli dari pedagang yang disebut paman (bukan abang seperti di daerah lain). Sebuah cerita indah yang tersimpan rapi dalam memori.

Puluhan tahun kemudian, sebuah undangan pernikahanan menerbangkan saya kembali menginjak tanah kelahiran ini. Pagi itu, mentari tanah Borneo menyapa menyapa saya kembali. Nampaknya, masih terasa sama hangatnya. Jarum jam sendiri belum menggapai angka 8 saat pesawat kami mendarat di bandara Tjilik Riwut. Bandara yang diambil dari nama pahlawan sekaligus mantan Gubernur propinsi yang baru lahir satu purnama (12 tahun) paska NKRI mandiri. Dengan taxi saya dan seorang sepupu meluncur menuju pusat kota yang berjarak 9 km dari bandara.

Banyak yang telah berubah dari kota berdimensi 2.687.51 km persegi ini. Memang dibandingkan kota-kota besar lain kota ini kalah hingar. Bagi anda yang mendamba kegemerlapan mungkin ini bukan kota yang tepat. Degubnya lambat cenderung santai. Atmosfernya mengalir tenang seperti Sungai Kahayan yang membelah kota ini. Namun meski terbilang senyap bukan berarti “terbelakang”. Bagi pemerhati tata kota, praja ini memiliki perencanaan yang apik. Jalanan lebar, pedestrian, taman diantara ruas jalan, blok dan bundaran. Cantik dan sedap dilihat. Kota ini memang nyata sudah memiliki rencana desain yang matang sebelum dijadikan pemukiman. Pengelompokan fungsi pemerintahan, komersil dan pemukiman semakin memperlihatkan kota ini memiliki konsep yang jelas. Tak heran julukan “kota cantik”pun disematkan. Maklum kabarnya Insinyur Soekarno memiliki andil besar dalam menyusun masterplan. Sejak beliau mengayunkan kapak pada pada sebilah kayu di Pahandut, Kampung Dayak di tepi Sungai Kahayan pada tanggal 17 Juli 1957. Kota baru ini kemudian diberi nama Palangka Raya yang berarti tempat suci, mulia, dan agung. Kota yang dalam garis imajiner berada di pusar nusantara ini kabarnya disiapkan menjadi ibukota RI. Dari buku “Sukarno dan Desain Rencana Ibukota RI di Palangkaraya” karya Wijanarka menuliskan bahwa sepotong impian Bung Karno tersebut memang pada nyatanya harus kandas. Salah satu alasannya adalah pengadaan bahan yang terhambat oleh medan yang sulit. Belum lagi kesibukan persiapan Asian Games kala itu. Yang jelas, dinamika politik yang berbuntu pada kejatuhan Orde Lama menjadikan rencana itu lenyap digilas roda sejarah.

Lamunan saya membayangkan situasi kala itu tiba-tiba terhenyak. “Sudah sampai pak”. Kalimat pendek meluncur dari bibir driver usai menghentikan kendaraanya di depan sebuah penginapan. Ternyata hanya butuh 15 menit untuk tiba di pusat kota. Sebuah hotel tua milik pemrov jadi pilihan kami bermalam. Pasalnya lokasinya strategis. Bercokol tak jauh dari Bundaran Besar, titik nol kota yang berada persis di depan Palma (Palangka Raya Mall), mall satu-satunya di kota berpenduduk 250.000 jiwa ini.

Kami lalu check-in dan rehat sejenak sebelum bersiap menjelajah kota yang kerap disebut sebagai “Palangka” saja oleh warga lokal ini. Untuk berkeliling memang boleh dibilang gampang-gampang susah. Kendaraan umum terbilang minim. Angkot yang disini disebut “Taxi kota” sangat terbatas dan hanya memiliki 3 rute dan jumlahnya tak banyak. Ojek nyaris tak ada dan Taxi lebih banyak melayani rute bandara ke kota. Opsi termudah adalah menggunakan jasa sewa mobil. Beruntung karena saya memiliki banyak kerabat di sini. Sebuah moda karbon beroda empat jenis SUV siap menjadi pinjaman untuk tunggangan berkelana.

Kuliner

Hari pertama di kota ini kami mulai dengan mencari pengisi ruang di perut. Rumah makan Samba yang terletak di Jalan RTA Milono menjadi target. Sasaran kami ini dikenal menjadi rujukan bagi pemburu makanan tradisional Kalteng. Saat tiba saya sempat tak yakin. Sepintas bangunannya tidak terlihat yang istimewa. Sangat sederhana. Bahkan lebih menyerupai bagian dari sebuah rumah. Tak ada pendingin ruangan sementara dindingnya dibiarkan setengah terbuka. Meski apa adanya, jangan tanya pengunjung yang datang. Ramai !. Sore hari bahkan gerai sudah rapi ditutup karena seluruh hidangan ludes.

Disini, makanan yang disediakan cukup beragam namun didominasi ikan sungai termasuk udang sungai Kalimantan yang terkenal itu. Nah salah satu yang khas dari resto ini adalah sayur umbut rotan. Sayur berbahan rotan? Betul ! Sayur khas suku Dayak memang dijamin membuat siapapun terperanjat bila mendengarnya. “Gak salah bro. Makan kursi?” Ujar seorang teman mengomentari foto semangkuk sayur berbahan rotan muda dengan kuah kekuningan yang saya upload ke media sosial. Sambil tersenyum sendiri, saya menjelaskan kalau rotan ini berbeda dengan bahan yang biasa buat anyaman. Rotan muda meski terasa sedikit pahit namun nikmat dilidah apalagi bila ditemani ikan bakar seperti patin atau baung. Mak Nyus !

Bila anda berkunjung ke kota ini, RM. Samba wajib masuk bucket list. Namun bila sudah tutup karena tiba kesorean. Jangan khawatir. Ada opsi lain yaitu Kampung Lauk. Resto favorit warga ini sengaja dibangun ditepian Sungai Kahayan, agar anda bisa bersantap sambil menikmati pemandangan Begawan dari atas saung-saung kayu diatas air. Sore hari adalah waktu yang pas untuk bertandang. Namun jangan datang sangat perut sedang keroncongan. Ramainya tamu membuat hidangan yang dipesan tak bisa cepat disajikan.    

Susur Sungai

Mengenal kota ini sendiri tak lengkap bila anda tidak mencoba ikon pelesirnya yaitu, rivercruise alias susur sungai. Melakukan perjalanan menyusuri Sungai Kahayan dan Rungan untuk melihat aktifitas kehidupan masyarakat Dayak hingga flora dan fauna endemik seperti bekantan ( Nasalis larvatus) dan orang utan ( Pongo pygmaeus). Tamasya ini menggunakan moda kapal wisata.

Dari Jalan RTA Milono kami menuju dermaga pemberangkatannya yang terletak diseberang gedung DPRD. Aksesnya melintasi area Tugu Sukarno di Jalan S.Parman. Tempat yang mudah ditemukan karena ini adalah monumen historis tempat peletakan batu pertama kota sehingga disebut Tugu Soekano. Sesudahnya tinggal berjalan kaki diatas pelantar sekitar seratus meteran hingga tiba di atas dermaga wisata yang bercokol disamping ikon kota Palangka Raya yaitu Jembatan Kahayan. Sebuah jembatan sepanjang 640 meter yang melintang tepat di atas sungai Kahayan. Jembatan yang juga punya ikatan dengan darah Sukarno karena diresmikan oleh putrinya, Megawati (2002).

Kami beruntung siang itu ada skedul kapal yang hendak berangkat. Kami lalu menuju loket. Tarif tur dibandrol 75 ribu dengan lama perjalanan sekitar 3 jam. Program ini menawarkan perjalanan melihat tempat pemancingan, atraksi burung elang, habitat orangutan hingga situs sejarah Dayak. Siang itu sudah nampak belasan peminat berkerumun di atas dermaga. Sebagian besar pria dan wanita berusia paruh baya. Usut punya usut mereka adalah rombongan pensiunan aparatur negara yang pernah bertugas dikota ini. Nampaknya mereka sedang melakoni wisata nostalgia. “Saya suka kota ini. Sejak tiba pertama puluhan tahun lalu”. Cerita seorang bapak di sebelah saya yang mengaku pernah bertugas sebagai jaksa. Mereka nampak ramah. Bahkan spontan mengajak kami bergabung bersendau gurau. Para purnabakti itu mengaku kini bermukim tersebar di berbagai kota di tanah air.

Seorang bapak mengajak saya duduk santai di bagian moncong kapal. Di sini dengan mudah menikmati hembusan angin bercampur uap air. Bahtera berukuran 25x7 meter inipun terbilang nyaman. Terdiri dari dua lantai dimana bagian atas adalah favorit penumpang. Kapal berbahan berbahan kayu Cangal dan Banuas inipun perlahan berjalan menyusuri sungai yang tenang. Membiarkan seluruh penumpangnya menikmati perjalanan menarik menyaksikan kehidupan di sepanjang sungai terbesar di Kalimantan Tengah yang dihiasi pemandangan hutan tropis di kedua sisinya. Sesekali melintas klotok (perahu motor kecil) milik warga disekitar sungai. Umumnya mereka mencari ikan air tawar seperti ikan baung, ikan lais, ikan patin sungai, ikan tapah hingga jelawat.

Tiga jam berkeliling, kapal kembali merapat di dermaga. Kamipun akhirnya berpisah. Sesudahnya saya sempat bercakap-cakap dengan seorang pemandu di depan loket. Ternyata kapal wisata yang sudah beroperasi sejak 2009 ini memiliki banyak program perjalanan. Yang paling banyak diminati turis (asing) adalah menyusur hingga ke pedalaman untuk melihat langsung kehidupan suku Dayak. Trip ini biasanya memakan waktu beberapa hari. “Menyaksikan kehidupan masyarakat dayak dijamin menjadikan perjalanan anda tidak terlupakan”. Ujar sang pemandu sambil menyerahkan beberapa brosur.

Pusat Souvenir

Matahari belum sirna saat kembali ke kendaraan yang terparkir. Teringat banyaknya pesan singkat permintaan suvenir. Kami lalu sepakat menyambangi pusat cenderamata yang berada Pasar Besar, tepatnya di Jalan Batam. Hanya 5 menit berkendara dari Tugu Sukarno. Terletak tak jauh dari Pelabuhan Rambang. Dermaga yang pernah riuh sebagai sentra transportasi dahulu kala. Saya ingat sebelum ada jalan trans Kalimantan, pelabuhan ini sangat hidup karena masyarakatnya sangat mengandalkan sungai sebagai sarana transportasi. Kini seiring perkembangan jaman denyut nadinya tak sekencang masa silam. Bandar ini kini lebih banyak dimanfaatkan untuk pengiriman aneka barang ke desa-desa di hulu.

Hanya melongok sebentar di dermaga pelabuhan yang sunyi kami mengayunkan langkah menuju Jalan Batam. Jalan ini sendiri tidak terlalu panjang, sekitar 100 meteran . Namun yang menjadikannya istimewa karena di kiri-kanannya dipenuhi toko-toko penjual aneka buah tangan. Mulai dari Mandau pedang khas Dayak, Tikar Lampit yang terkenal itu, perahu karet Nyatu,batik Kalimantan hingga berbagai jenis batu akik khas Kalimantan seperti kecubung.

Jelang senja kami kembali untuk rehat di penginapan. Tak ada agenda lanjutan. Pasalnya rasa lelah mulai merundung. Selain itu Jalan Yos Sudarso yang melintang di depan hotel juga punya tawaran menarik. Suasana cukup meriah di malam hari. Keramaian berkilau karena hadirnya pasar malam yang dipenuhi pedagang penjaja makanan. Beragam kuliner bisa ditemukan disini. Kamipun menghabiskan malam seutuhnya di kawasan ini.

Tangkiling

Esoknya, kami beranjak ke luar kota. Sasaran kami adalah Tangkiling. Sebuah destinasi yang berjarak 34 km dari pusat kota atau kira-kira 50 menit berkendara. Tidak terlalu sulit menggapai tempat ini. Anda hanya perlu mengikuti jalan Tjilik Riwut dari bundaran besar. Meluncur di jalan nan mulus selebar 6 meter yang disebut salah satu jalan berkonstrusksi terbaik di tanah Borneo. Jalan raya Palangka Raya-Tangkiling ini oleh sebagian warga lokal disebut Jalan Rusia. Merujuk pada sejarah yang mencatat bahwa jalan yang diusulkan Soekarno tahun 1960-an ini dibangun dengan mendatangkan insinyur dari Rusia. Adimarga yang juga menandai pembangunan kota Palangka Raya.

Banyak destinasi yang dapat di sambangi jika menelusur jalan yang sudah terhubung dengan trans Kalimantan ini. Mulai dari Taman Wisata Fantasi Beach (km 21), Danau Tahai (km 30) hingga Taman Wisata Alam Bukit Tangkiling dan Batu Banama dimana terdapat biara pertapaan Karmel dan pura Agung Sali Paseban/Satya Dharma. Jika anda punya banyak waktu bisa meneruskan perjalanan hingga ke Taman Nasional Sebangau. Sebuah wilayah hutan gambut luas yang memiliki kombinasi keunikan flora,fauna dan lansekap. Namun karena terbatasnya waktu kami membuangnya dari kotak rencana dan memilih berkeliling di sekitar Danau Tahai saja.

Danau Tahai sendiri bukanlah danau seperti yang anda bayangkan. Tapi lebih mirip kolam raksasa yang terbentuk dari terbentuk dari perubahan aliran sungai Kahayan yang tidak mengikuti aluran lagi. Lokasinya berdekatan dengan Arboretum Nyaru Meteng, sebuah hutan wisata yang didalamnya juga terdapat pusat rehabilitasi dan reintroduksi orangutan yang dikelola Borneo Orangutan Survival.

Sei Gohong

Kami juga menyempatkan diri untuk menyambangi desa Sei Gohong. Sebuah perkampungan kecil suku Dayak Ngaju yang terletak sekitar 4 km dari Bukit Tangkiling. Di Kawasan ini terdapat Huma Hei (rumah besar), rumah tradisional yang terbuat dari kayu ulin. Selain itu anda juga bisa melihat sandung, rumah kecil tempat meletakan tulang belulang leluhur yang telah wafat. Di dekatnya terdapat beberapa sapundu. Yaitu ukiran tiang dari kayu berwujud mirip manusia yang biasanya digunakan untuk mengikat kerbau atau sapi pada saat perayaan tiwah, ritual bagi penganut agama Kaharingan.

Perkampungan ini memang dikenal masih memelihara tradisi. Otoritas wisata sendiri berniat mengembangkan menjadi desa wisata. Saya sempat melihat papan petunjuk adanya sebuah resort di dekatnya. Yaitu Rungan Sari Resort. Sebuah penginapan berkonsep ekowisata yang dikelola oleh Yayasan Subud.

Kami lalu meneruskan langkah ke arah bibir sungai Sei Gohong dimana terdapat dermaga kayu. Terlihat beberapa jukung (perahu) bersandar di sana. Saya menghampiri seorang pemiliknya karena tergoda menyewanya. Setelah proses tawar menawar disepakati kamipun siap bertolak. Sasaran kami adalah menelusur sungai hingga ke Pulau Kaja. Meski bertajuk pulau jangan bayangkan seperti pulau di tengah laut. Karena pulau ini hanyalah daratan di diantara Sungai Rungan dan Terusan Kaja. Ini adalah pulau isolasi tempat rehabilitasi orangutan. Satwa ini sengaja ditempatkan di Pulau Kaja sebagai pulau persinggahan untuk adaptasi sebelum dilepasliarkan di hutan. Sebenarnya diperlukan surat ijin untuk memasukinya. Pak Esti pemilik perahu menyarankan kami untuk mengamati dari atas perahu saja. Saya tak keberatan. Jujur saja, saya begitu menikmati suasana disini. Panorama hijau begitu menyegarkan mata. Sunyi dan hening disepanjang aliran sungai yang dikelilingi rimbun hutan. Hanya sesekali terdengar suara-suara satwa. Terlihat kawanan orangutan bergelayutan santai di atas pohon. Mereka memandangi kami. Saya lalu meraih kamera. Seekor orangutan besar nampak mencoba mendekati perahu. Pak Esti lalu dengan sigap memundurkan perahu. Rasa was-was sempat menghantui namun karena posisi perahu masih sekitar 5-7 meter dari bibir pulau. Orangutan itu enggan melompat. Sebuah pengalaman mendebarkan yang seru sebenarnya.

Di sekitar Sei Gohong anda memang diajak bersenyawa dengan alam karena selain melihat aktifitas orangutan, mata anda juga dimanjakan hijaunya alam hutan tropis yang menyatu dengan kehidupan masyarakatnya. Beberapa kali kami berpapasan dengan belasan perahu kayu penyadap karet. Kami pun saling bertukar salam dengan melambaikan tangan. Kabarnya daerah ini adalah salah satu penghasil karet terbaik di Nusantara. Sei Gohong sendiri lebih berfungsi sebagai sebagai tempat transit hasil karet dari daerah hulu sungai untuk diangkut dengan truk ke pabrik yang umumnya berada di Banjarmasin (Kalimantan Selatan).

Museum Balanga.

Sekitar pukul tiga kami kembali ke kota. Sebelum memasuki bundaran besar kami melipir ke Museum Balanga yang terletak di Jalan Tjilik Riwut Km 2.5. Tak lengkap memang datang ke suatu kota tanpa mampir ke museumnya. Museum Balanga yang berasal dari kata Balanga (Guci keramik) ini berhalaman cukup luas yaitu sekitar 5 hektar. Ruang pamer museum berada di dua bangunan kembar dua lantai yang terhubung oleh sebuah koridor.  Jika menengok ke dalam anda akan dimudahkan dengan koleksinya yang ditata berdasarkan daur hidup, dimulai dari peralatan upacara fase kelahiran, perkawinan dan terakhir kematian sehingga pengunjung gampang merasakan suasana kehidupan suku dayak tempo dulu.
Benda-benda tradisional seperti Mihing (alat penangkap ikan tradisional), kalung penyang (jimat), baju sakarut atau baju Karungkong Sulau, baju Basurat hingga persenjataan seperti Mandau, Sumpitan, Duhung, dan sebagainya dapat anda temukan di sini.

Dari museum kami mampir menyambangi rumah khas suku dayak yang disebut Rumah Betang. Berlokasi di Jalan DI Panjaitan, tak jauh dari Bundaran Besar. Sayangnya bangunan ini adalah replika sahaja. Sejatinya tempat yang kami kunjungi ini sebenarnya adalah pusat kesenian yang bertajuk Mandala Wisata. Rumah Betang yang asli sendiri masih banyak terdapat di pedalaman Kalimantan. Namun setidaknya pengunjung bisa punya gambaran bentuk rumah besar yang bisa dihuni sampe 10-12 kepala keluarga dan punya makna besar bagi suku dayak yaitu kebersamaaan.

Hari berikutnya tak banyak yang dikerjakan karena lebih banyak tersita menghadiri pesta pernikahan yang berlangsung hampir setengah hari. Sesudahnya hanya saya manfaatkan untuk berjalan-jalan di Palangka Raya Mall serta kembali ke Jalan Batam mencari oleh-oleh tambahan.

Sayapun harus bersiap kembali keesokan harinya dengan penerbangan dini. Walau ringkas, saya merasa perjalanan ini tak hanya membawa berbagai buah tangan unik untuk dibagikan tapi juga sepotong kenangan yang terukir kembali. Semoga saja bisa kembali mengunjungi kota impian ini.

XposeSearch

Ads Banner 250x300 px

Ads Banner 250x300 px

Ads Banner 250x300 px

XposeCounter

103660
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
663
1043
7859
84517
36013
45233
103660

Your IP: 54.81.195.240
Server Time: 2017-11-25 10:41:37
Go to top