KASODO dan KARMA. Kejadian unik di tengah padang pasir

Perkenalanku dengan Sunarto seorang tukang ojek di Desa Ngadisari, Pasuruan, ketika akan menghadiri upacara Kasodo membuat perjalanan kali ini menjadi berbeda. Sunarto, yang bersuku Tengger, rumahnya persis berada di depan homestay yang aku tempati untuk 3 hari 2 malam. Dia akan menemani berkeliling Pegunungan Tengger, termasuk memotret di Gunung Penanjakan, juga mencari foto postcard sejuta umat Gunung Bromo, Gunung Batok, Gunung Widodaren, serta Gunung Semeru.

Tukang ojek sekaligus guide

Memakai motor dengan ban yang sudah diganti dengan kembangan agak kasar serta roda gigi depan-belakang yang perbandingannya sudah diubah, Sunarto lincah sekali membawaku membelah padang pasir Gunung Bromo. Tak sekalipun kami terhenti karena jatuh atau berhenti karena mesin yang tak kuat. Tanjakan Gunung Pananjakan dilahap mulus meski membonceng aku yang 70 kilogram beratnya. Stop and Go di tengah tanjakan, karena aku ingin memotret, tidak pernah kesulitan. Motornya benar-benar perkasa.

Hari pertama kami cuma keliling-keliling lautan pasir, melihat tempat pengambilan air suci, melihat pura-pura kecil di tengah lautan pasir, serta melihat lokasi Kasodo. Sambil mengemudi, Sunarto menceritakan urut-urutan prosesi Kasodo serta tempat-tempat yang wajib dikunjungi. Wah gak disangka, selain tukang ojek dia juga seorang pemandu wisata yang baik. Melihat pakaianku, dia lalu menyarankan apa yang harus aku pakai, jaket, syal, sepatu, bahkan mengingatkanku memakai masker yang baik untuk debu pasir serta asap belerang. Kali ini lautan pasir sedang tidak seksi karena cuacanya yang kering. Aku tak melihat banyak tumbuhan dan bunga yang berkembang di tengahnya. Rasanya aku tak dapat aura eksotiknya kali ini.

Penuh sesak di Penanjakan

Hari kedua, pintu kamarku diketuk Sunarto jam 2 pagi dan dengan amat sangat malas untuk meninggalkan kehangatan kamar, aku beringsut dan baru jalan jam 3 pagi. Pagi ini kami menuju Gunung Penanjakan, aku ingin memotret sunrise di lokasi foto sejuta fotografer. Dinginnya udara menusuk tulang padahal jaketku rangkap 2, sambil melaju di tengah gelap pekat aku berkali kali membetulkan posisi syal dan penutup telinga. Berderet-deret jip juga sudah parkir di pintu masuk desa Ngadisari menunggu tamunya siap. Kami membelah lautan pasir memakai motor di tengah dingin yang luar biasa. Rasanya, … juga luar biasa. Hp Androidku menunjukkan suhunya 4⁰C.

Pelataran tempat memotret di Gunung Penanjakan ini penuh manusia, bergerak pun susah, apalagi memotret. Wah aku mesti kesini lagi saat low season dan bukan sabtu-minggu. Yah, dengan bergeser dikit demi sedikit aku berusaha dapat tempat untuk bisa melihat matahari terbit. Hanya melihat di sela-sela orang lain. Kulit hitam, kulit coklat, kulit putih, kulit kuning, semua berbaur berhimpitan melihat dan memotret matahari terbit yang membiaskan sinarnya perlahan-lahan. Perubahan gradasi sinar dan warna semburat pagi yang perlahan-lahan jadi luar biasa.

Tertatih menuju Air Suci

Selesai menikmati mie rebus pakai telor yang panasnya menghangatkan perut, kami kemudian bergerak turun. Kali ini menuju Gunung Widodaren melihat orang-orang Tengger mengambil air suci. Ternyata aku harus mendaki sebuah bukit untuk melihatnya, dan, aku harus berjalan kaki. Aku mulai mendaki perlahan-lahan di sela-sela mereka yang berjalan ringan untuk naik bukit. Anak-anak kecil begitu lincahnya mendaki, bahkan beradu cepat sama bapaknya di tanjakan, edan. Berhenti, mengatur nafas, melihat sekeliling pura-pura melihat pemandangan, jalan lagi, berhenti lagi, mengatur nafas lagi, melihat pemandangan lagi. Terus begitu berkali-kali sampai akhirnya aku sampai di tempat pengambilan air suci.

Ternyata ini bukan sumber air, melainkan air yang menetes dari atas bukit, air seperti keluar dari sela-sela tanahnya. Dan mereka tua-muda, dewasa-anak anak, berebut mencari tempat untuk menadahnya. Untuk ditampung dalam botol, jerigen, untuk cuci muka bahkan diminum langsung. Sementara itu terlihat di pojok gua, tiga orang dukun memimpin doa bagi yang bersiap mengambil air. Bau sedap kemenyan dan asap rokok berbaur dengan bau rumput basah dan udara segar pagi.

Kejadian unik di tengah padang pasir

Seusai menemani beberapa orang suku Tengger menikmati makanan yang merupakan bagian dari sesaji mereka di tengah padang pasir, kami bergerak lagi membelah pasir. Di tengah perjalanan kami menemui sebuah pick-up L300 yang terjebak di tengah pasir. Para penumpangnya—orang-orang Tengger yang hendak mengambil air suci--sudah keluar dari pick-up, sementara seorang nenek dan balitanya tetap duduk di dalamnya. Sunarto aku ajak berhenti untuk menolong mereka. Kami beberapa kali bersama-sama berusaha menarik pick-up dari jebakan pasir pakai tali, bahkan juga memberi landasan bagi ban belakangnya yang spin, tapi kami tak berhasil. Aku berinisiatif menyetop Toyota FJ40 yang lewat dekat kami, ada beberapa, tapi tak sebuah pun yang mau berhenti. Aku setengah kecewa, apa-apaan ini? Kok tidak ada yang berhenti?

Di tengah terik, sambil setengah ngomel, karena tak berhasil menolong mereka, aku dan Sunarto melanjutkan perjalanan. Sambil bermotor membelah pasir, aku bertanya kepada Sunarto, kenapa tak ada jip yang mau berhenti? Gak kasihan?” Aku bertanya. Dengan kalem Sunarto menjawab, “mungkin gak ada sopir yang melihat lambaian bapak. Mereka mungkin juga tidak melihat pick-up.” “Hah, aku hantu?” tanyaku sambil tertawa. Narto dengan kalem menjawab “Suku Tengger, percaya karma. Itu mungkin peringatan (hukuman) buat yang di pick-up, dihalangi ketika mau beribadah. Mungkin mereka pernah berbuat sesuatu yang dilarang suku kami.” Aku kaget, Aku tidak komentar. Begitu entengnya.

Indonesia is dangerous beautifully

Keesokan paginya, jam 2 pagi, lagi-lagi Sunarto mengetuk pintu. Kami berangkat menuju pura di tengah padang pasir. Kali ini aku memakai jaket rangkap 3. Semalam aku menyewa jaket tebal seharga 25.000 rupiah. Badanku hangat, tapi rasa dingin masih menyerbu tangan, kaki, telinga, dan wajahku. Kami menuju pura melihat pemilihan ketua dukun baru di tengah suhu yang masih 4C dengan suasana mistis karena bau kemenyan yang sangat kuat. Beberapa api unggun di sekitar pura terlihat dikelilingi orang yang mencoba menghangatkan badan dari serbuan udara yang amat dingin. Untuk menghangatkan badan, aku perlahan-lahan bergeser mendaki ke atas Gunung Bromo untuk melihat orang-orang suku Tengger melempar sesaji ke kawahnya. Serbuan bau belerang yang menyengat masuk ke dalam hidung, sambil batuk-batuk, aku merapatkan masker 3Mku ke hidung dan berharap bau belerang berkurang. Sampai di depan deretan anak tangga yang harus aku daki sebentar lagi, aku beristirahat sambil menikmati sunrise yang sangat indah. Pendar cahaya dan warna membias kemana-mana. It’s a wonderful moment. Benar memang Indonesia is dangerous beautifully.

Perdebatan di bibir kawah

Lebih dari dua jam aku berdiri di sisi kawah Gunung Bromo menikmati pemandangan orang-orang suku Tengger melempar sesaji ke kawah, sementara itu orang-orang lain berusaha menangkap sesaji itu sebelum masuk ke kawah. Yang dilempar ke kawah ada bermacam-macam sesaji. Ada sayur-mayur seperti kentang, bawang, tomat, cabe, dan jagung. Juga ada uang logam, uang kertas, ayam, kambing, bahkan juga anak sapi, gila aja. Yang tidak lazim, beberapa orang berusaha meminta sesaji itu dari orang-orang Tengger sebelum sesaji itu dilempar ke kawah. Bahkan ada yang merebutnya. Sekali, dua kali aku lihat, tiga kali, dan setelah beberapa kali aku lihat, duh rasanya emosiku terganggu. Sebagai umat beragama, aku merasa marah ketika melihat umat lain diganggu saat hendak beribadah. Mereka terganggu ketika hendak berdoa dan melempar sesaji. Beberapa anak muda Tengger bahkan beradu argumen dengan orang-orang yang hendak merampas sesajinya, aku pun membantu mereka berdebat untuk melapiaskan kedongkolan hati. Sungguh ini rasa yang tidak menyenangkan. Akhirnya pemuda-pemuda Tengger ini berhasil melaksanakan ibadahnya dengan baik dan melempar sesaji ke dalam kawah.

Ketika makan siang bersama Sunarto, aku bercerita soal kejadian di bibir kawah. Soal orang-orang yang meminta sesaji, soal ibadah yang terganggu, soal perdebatan di bibir kawah, soal kedongkolan hatiku. Sunarto, lagi-lagi dengan kalem, menjawab “bapak tidak perlu sakit hati, suku Tengger percaya karma, mungkin orang-orang kami pernah berbuat buruk sehingga ibadahnya diganggu” “Kan tidak semua orang ibadahnya terganggu?”

Benar juga kata Sunarto, tidak semua orang Tengger ibadahnya terganggu.

Aduh pasrahnya itu, rasa nrimonya luar biasa. Orang-orang Tengger punya hati yang luar biasa. Aku banyak belajar dalam perjalananku kali ini. Lalu, aku sadar, aku berada di belahan dunia yang lain, di tempat yang adat-istiadat dan budayanya berbeda. Indonesia kaya budaya, dan ini salah satunya.

XposeSearch

Ads Banner 250x300 px

Ads Banner 250x300 px

Ads Banner 250x300 px

XposeCounter

103638
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
641
1043
7837
84517
35991
45233
103638

Your IP: 54.81.195.240
Server Time: 2017-11-25 10:36:29
Go to top