Jelajah Kemerdekaan. Republik Indonesia resmi berusia 70 tahun

Agustus ini, Republik Indonesia resmi berusia 70 tahun. Kemerdekaan yang diraih pada 17 Agustus 1945 tentu menyimpan jejak sejarah yang hingga kini masih dapat ditemukan di beberapa destinasi, meskipun situs atau rumah tempat proklamasi berlangsung di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 sudah roboh puluhan tahun silam.

Edisi ini, diilhami oleh pidato Bung Karno yang menggebu-gebu pada tahun 1966 tentang jas merah atau jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, kami ingin mengajak Anda menelusuri kembali napak tilas para pendiri bangsa menjelang proklamasi kemerdekaan tujuh puluh tahun silam di beberapa destinasi tersisa. Bukan hanya sekadar ‘mengantar’ Anda ‘melongok’ situs-situs bersejarah Republik Indonesia itu tapi kami juga ingin merekomendasi beberapa destinasi menarik di seputar situs tersebut untuk disambangi dan ternyata juga memiliki kisah sejarah yang berlapis.

Semua Bermula Dari Rengasdengklok

Salah satu sejarah penting dari Republik ini pernah terukir di Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang Barat. Menjelang tanggal keramat 17 Agustus pada tujuh puluh tahun silam, rumah seorang petani berdarah Tionghoa, Djiau Kie Siong, pernah menjadi saksi peristiwa penculikan Bung Karno dan Bung Hatta oleh beberapa tokoh pemuda seperti Jusuf Kunto, Soekarni, Wikana dan Chaerul Saleh yang menghendaki kemerdekaan Indonesia untuk diproklamasikan secepatnya.

Penolakan dari kubu Soekarno, Hatta dan Ahmad Soebardjo, yang lebih menginginkan proklamasi dilaksanakan secara matang dan melalui proses rapat membawa rumah milik Tjaw Kie Siong pun akhirnya masuk dalam lembaran sejarah Indonesia. Untuk menghindari polemik saat itu juga campur tangan pihak Jepang yang baru kalah perang, golongan muda yang terdiri dari Soekarni cs akhirnya membawa Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok dan singgah di rumah sederhana milik Kie Siong bersama dengan Fatmawati juga Guntur, putra pertama Soekarno yang waktu itu belum genap satu tahun.

Kondisi rumah tua di desa Bojong ini sendiri boleh dibilang masih terjaga baik. Kami sempat bertemu dengan Ibu Iin. Beliau adalah cicit langsung dari Djiau Kie Siong dari anaknya yang nomor lima. Pada dinding kayu rumah berarsitektur peranakan itu kita akan menemukan jajaran foto-foto Soekarno, Hatta, maupun para kelompok muda bersama dengan foto sang pemilik rumah Djiau Kie Siong yang berukuran besar. Di dalam rumah itu, kita juga masih dapat menemukan dua kamar yang masing-masing pernah menjadi tempat istirahat Soekarno dan Hatta saat proses penculikan. Ibu Iin banyak bercerita pada kami tentang kejadian saat itu. Dari mulutnya mengalir kisah tentang sosok Ngkong (sapaan Tjaw Kie Song) yang awalnya tidak tahu sama sekali bahwa akan banyak orang yang datang ke rumahnya termasuk sang calon pemimpin Indonesia Soekarno dan wakilnya Muhammad Hatta.

Konon para pemuda memilih rumah Tjaw Kie Song karena halamannya yang luas dan terdapat dinding tinggi yang tidak dapat dilihat oleh orang dari luar. Selain itu, tidak jauh dari rumah ini berdiri juga rumah lainnya sehingga tidak menimbulkan kecurigaan dan memiliki tingkat keamanan terjamin. Dari cerita Ibu Iin pula diketahui bahwa selama Soekarno menginap di rumah itu, Ngkong beserta keluarganya mengungsi ke tempat lain. Hingga satu ketika, karena pada saat itu Tjaw Kie Song ‘mengungsi’, ia tidak tahu bahwa rumah yang disinggahi oleh Soekarno telah kosong.

Rupanya Soekarno dan rombongan tidak sempat pamit kepada Tjaw Kie Song karena terburu-buru harus segera sampai di Jakarta untuk mengumandangkan proklamasi. Setelah Proklamasi, Tjaw Kie Song baru menyadari bahwa yang sudah menginap di rumahnya adalah Presiden Republik Indonesia pertama. Tercatat, rumah Tjaw Kie Song yang ada sekarang bukan merupakan lokasi asli karena pada tahun 1957, rumah milik petani ini sempat dipindahkan karena terancam abrasi sungai Citarum.

Tidak jauh dari rumah Tjaw Kie Song, kita juga akan menemukan Monumen Kebulatan Tekad yang dulunya adalah markas PETA (sekolah khusus polisi pada zaman Jepang). Situs monumen ini sendiri berbentuk kepala tangan berwarna emas yang bertumpu pada bola beton bertuliskan ’17 AUG 1945’ dengan panel dibagian bawahnya terdapat teks proklamasi. Area monumen ini sendiri cukup luas dan dalam kondisi bersih terawat. Kepalan tangan pada monument tersebut menginterpretasikan lambang bulatnya tekad yang diperjuangkan para pejuang untuk kemerdekaan Indonesia.

Menariknya, di bagian belakang tugu ini juga terdapat relief yang menggambarkan peristiwa pada tanggal 16 Agustus 1945 saat Soekarno dan Hatta dibawa oleh golongan muda ke Rengasdengklok untuk menghindari pengaruh Jepang yang baru saja kalah perang. Selain jejak proklamasi, Rengasdengklok juga memiliki Monumen Rawagede untuk memperingati peristiwa mengerikan pada 9 Desember 1947, saat warga sipil dibantai oleh tentara Belanda yang mencari Komandan Kompi Siliwangi Kapten Lukas Kustaryo.

Semua warga laki-laki di Rawagede kemudian ditembak mati oleh tentara Belanda karena dianggap tidak mau bekerja sama untuk memberi tahu dimana Kapten Lukas berada. Untuk mengenang peristiwa mengharukan tersebut, dibangunlah sebuah monumen yang sekaligus makam para penduduk desa yang telah dibunuh pada November 1995 dan diresmikan pada 12 Juli 1996. Kami datang di waktu yang tepat ke monument yang juga menjadi saksi peristiwa pilu hampir tujuh puluh tahun silam ini dan bertemu langsung dengan Bapak Sukarman, ketua yayasan monument ini yang berkisah panjang lebar tentang peristiwa Rawagede.

Di monumen yang berbentuk seperti piramida ini terdapat dua lantai di dalamnya. Tepat di depan gerbang terdapat tangga yang akan mengarahkan kita langsung ke lantai paling atas. Di lantai atas itu terdapat patung seorang Ibu yang sedang memeluk anaknya dan suaminya yang sudah mati. Di belakangnya terdapat ukiran penggalan puisi karya Chairil Anwar yang berjudul ‘Antara Karawang dan Bekasi.

Sedangkan di lantai bawah terdapat diorama yang menggambarkan peristiwa pembantaian pada waktu itu. Pada bagian belakang monumen ini terdapat halaman yang cukup luas dan menjadi area pemakaman dengan nama Sampurna Raga. Di dekat pintu makam kita juga akan menemukan data tentang jumlah para korban yang tewas dibantai. Jumlah korban tersebut antara lain dari peristiwa 9 Desember 1947 sebanyak 431 orang, kurun waktu antara bulan Januari sampai Oktober 1948 sebanyak 43 orang, dan korban yang jatuh pada kurun waktu bulan Juli sampai November 1950 sebanyak 17 orang.

Setelah lebih dari 60 tahun lamanya setelah peristiwa tersebut, pengadilan Den Haag pada 14 September 2011 menyatakan pemerintah Belanda bersalah dan bertanggung jawab atas peristiwa yang pernah terjadi. Boleh dibilang Republik ini bisa berdiri karena ada andil Rengasdengklok di dalamnya.

History Walk di Menteng Area

Di Jakarta, situs-situs seputar proklamasi Republik Indonesia tersebar di kawasan Menteng dengan jarak yang terbilang saling berdekatan sehingga dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Biasanya rumah bergaya arsitektur Eropa di Jalan Imam Bonjol Nomor 1 yang kini telah menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi atau biasa disingkat Munasprok menjadi destinasi pertama untuk history walk peristiwa proklamasi Republik Indonesia. Saat peristiwa besar berlangsung pada pertengahan Agustus 1945, rumah ini ditempati oleh Laksamana Tadashi Maeda yang merupakan Kepala Kantor Penghubung antara Angkatan Laut dengan Angkatan Darat Jepang.

Fungsi gedung dengan luas tanah 3.914 meter persegi dan luas bangunan 1.138 meter persegi ini boleh dibilang telah mengalami pasang surut selama perjalanan Republik Indonesia. Setelah kekalahan Jepang, gedung ini sempat menjadi Markas Tentara Inggris dan pernah dikontrak oleh Kedutaan Inggris sampai dengan tahun 1981. Sebelum akhirnya pada 28 Desember 1981 diterima oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan atas intruksi Menteri Penedidikan dan Kebudayaan Prof. Nugroho Notosusanto gedung ini pun menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamas dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.0476/1992 tanggal 24 November 1992.

Terbagi dalam empat ruang, museum ini menjelaskan secara lengkap pada kita semua bagaimana rumah ini pernah menjadi saksi kunci dari peristiwa penting kemerdekaan Republik ini tujuh puluh tahun silam, seperti ruangan merumuskan naskah proklamasi antara Soekarno- Hatta bersama Soediro dan B.M Diah pada pukul 3 subuh.

Di museum ini pula kita akan menemukan ruang khusus saat Soekarno membuat draft pertama dari naskah proklamasi dengan judul “Proklamasi” yang ditulis dengan tangannya sendiri. Salah satu ruang di museum ini juga memiliki piano besar, tepatnya di bawah tangga yang ternyata merupakan tempat di mana Soekarno- Hatta menandatangi naskah proklamasi. Konon, dari ruangan ini pulalah Soekarno akhirnya memutuskan untuk membaca naskah proklamasi di halaman depan rumahnya.

Kita juga akan menemukan benda-benda yang pernah dikenakan para tokoh yang hadir dalam perumusan naskah proklamasi seperti jam tangan, pulpen hingga pakaian. Salah satunya peninggalan dr.KRT Radjiman Wedyodiningrat seperti blangkon hingga surat-surat berharga.

Sebuah ruang sempit juga memperlihatkan diorama Sayuti Melik yang ditemani BM Diah mengedit sekaligus mengetik naskah proklamasi. Menariknya, rumah ini juga memiliki sebuah bunker rahasia selebar 5 meter dengan panjang 3 meter dan tinggi sekitar 1,5 meter yang dahulu pernah digunakan oleh Laksamana Maeda untuk menyimpan barang-barang berharganya seperti dokumen penting kenegaraan.

Sayangnya, beberapa benda penting yang menjadi penunjang museum sejarah ini seperti piano, sofa, rak, dan lemari sebagian diantaranya adalah barang replika. Konon, barang-barang asli di rumah ini dijarah saat Laksamana Maeda harus hengkang akibat Jepang kalah perang.

Setiap tahunnya, Munasprok menggelar berbagai acara menyambut hari kemerdekaan Indonesia dengan agenda napak tilas yang dimulai dari Museum Joang ’45 kemudian ke Munasprok di Jalan Imam Bonjol dengan puncak acara di Tugu Proklamasi. Tahun ini dijadwalkan, acara napak tilas akan  menghadirkan anak mendiang Laksamana Maeda yang datang ke Indonesia untuk memperingati 70 tahun Indonesia merdeka. Selain Munasprok, wisata sejarah seputar proklamasi biasanya memang langsung tertuju ke Monumen Proklamator yang berlokasi di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta Pusat. Di sini pada tanggal 17 agustus 1945 pasangan dwitunggal Ir.Sukarno dan Bung Hatta saling mendampingi saat proklamasi kemerdekaan Indonesia berkumandang.

Meskipun rumah bersejarah yang juga rumah Ir. Soekarno sebagai lokasi proklamasi kemerdekaan sudah dirobohkan sejak tahun 1962, jejaknya masih dapat kita temukan di seputar Monumen Proklamator. Monumen dengan taman rindang di sekitarnya ini sendiri diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 17 Agustus 1980. Di rumah itu pula bendera Merah Putih (yang kini sang saka merah putih) dijahit oleh Ibu Fatmawati.

Monumen Proklamator sendiri terdiri dari 17 pilar yang berdiri kokoh di belakang patung proklamator, ini tentu menggambarkan angka 17 sebagai tanggal proklamasi. Tepat di tengah-tengah patung Soekarno-Hatta terdapat batu marmer hitam bertuliskan naskah proklamasi yang setiap ukirannya sesuai seperti sebuah lipatan kertas. Tidak jauh dari sini kita juga akan menemukan Gedung Pola yang kini bernama Gedung Perintis Kemerdekaan. Sejarah mencatat bahwa gedung ini ditandai dengan peristiwa ”Ayunan Cangkul Pertama” oleh Presiden Soekarno yang ketika itu mencanangkan dimulainya program Pembangunan Nasional Semesta Berencana Tahap I.

Di sini Presiden Soekarno pernah mencanangkan pembangunan Indonesia di masa depan, merencanakan pembangunan pabrik-pabrik di berbagai pelosok tanah air, termasuk universitas maupun mega proyek seperti bendungan dan transportasi masal. Bila kita sempat masuk ke dalam gedung ini kita juga masih dapat menemukan maket dan rencana pembangunan yang pernah digadang-gadang sebagai proyek mercusuar itu. Saat ini, kondisi Gedung Pola boleh dibilang menyedihkan karena terkesan tidak terawat. Dindingnya penuh jamur dan kusam, beberapa bagian gedung ditumbuhi perdu liar. Beberapa sudutnya malah menjadi tempat nongkrong pengemis. Selain Monumen Proklamator dengan Gedung Pola, di kompleks seluas empat hektar ini kita juga akan menemukan Monumen Petir setinggi 17 meter di tempat Bung Karno membacakan teks Proklamasi 70 tahun lalu.

Situs lain yang masih terhubung dengan peristiwa proklamasi berlokasi di Jalan Menteng Raya 31. Gedung ini dikenal juga sebagai Gedung Joang ’45 atau Museum Joang 45. Diresmikan pada tahun 1974 oleh Presiden Soeharto, di dalamnya kita akan menemukan beberapa foto sejarah seputar perjuangan bangsa mencapai kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 hingga beberapa memorabilia penting seperti mobil dinas resmi Presiden dan Wakil Presiden RI Pertama yang dikenal dengan mobil REP 1 dan REP 2 dan terparkir dengan baik di garasi khusus di halaman belakang museum.

Gedung yang dibangun pada 1920-an ini sendiri awalnya adalah sebuah hotel yang dikelola oleh keluarga L.C. Schomper, seorang berkebangsaan Belanda yang sudah lama tinggal di Batavia. Hotel dengan bangunan utama yang berdiri megah di tengah dan diapit oleh deretan kamar-kamar penginapan ini nyatanya cukup ternama pada masanya.

Beberapa tokoh perjuangan yang ikut ambil bagian dalam peristiwa seputar proklamasi ditampilkan dalam bentuk patung-patung dada dan tersebar luas di seluruh penjuru museum ini. Saat Jepang menduduki Indonesia pada kurun waktu 1942-1945, hotel ini beralih fungsi menjadi kantor Ganseikanbu Sendenbu atau dinas propaganda Jepang yang tujuannya untuk memberikan pendidikan politik bagi pemudapemuda Indonesia atas biaya pemerintah Jepang. Dari gedung inilah para pemuda yang ‘menculik’ Soekarno-Hatta dan dikomandoi oleh Wikana dan kawan-kawan pernah ‘mondok’.

Destinasi Wisata Seputar History Walk

Bukan melulu tentang sejarah yang rumit, berwisata di seputar kawasan Menteng yang juga menjadi destinasi penting seputar detik-detik proklamasi juga menarik. Kami merekomendasikan beberapa tempat yang dapat menjadi lokasi kongkow. Meminjam istilah kekinian. Salah satunya adalah Bioskop Metropole yang kini semakin cantik. Bangunan utama bioskop ini sendiri sudah dibangun pada tahun 1932 meskipun peresmiannya baru berlangsung pada tahun 1949. Wakil Presiden Muhammad Hatta berkenan meresmikan bioskop ini saat itu.

Bioskop tertua di Jakarta yang arsitekturnya dirancang oleh Liauw Goan Sing ini sendiri pada awal beroperasinya menggunakan nama Bioscoop Metropool. Nama Megaria disematkan pada bioskop ini saat Presiden Soekarno mengumumkan kebijakan anti-Barat pada tahun 1960. Kini selain menonton bioskop, kita pun dapat merasakan petualangan kuliner di Roemah Kuliner yang ada di lantai dua bangunan utama bioskop. Ditata secara modern, ini adalah food court modern untuk Anda yang tergila-gila pada masakan Indonesia otentik.

Untuk Anda yang suka dengan barang antik dan juga mengumpulkan beragam musik lawas dalam bentuk kaset, CD dan vinyl, tidak jauh dari Bioskop Metropole ada Pasar Barang Antik Jalan Surabaya yang sejak puluhan tahun silam telah menjadi destinasi khusus turis asing. Selain itu, untuk mendapatkan atmosfer Menteng yang menenangkan, sambangi juga Hotel Hermitage yang berlokasi di Jalan Cilacap. Bangunan bergaya art deco yang berdiri pada 1923 ini konon pernah menjadi kantor pribadi Ir. Soekarno di masa-masa awal kemerdekaan Republik Indonesia sebelum ngantor di Istana Negara.

Di dinding lobinya kita masih akan menemukan foto-foto lama yang dikemas bingkai lux dari bangunan ini sebelum dipugar dalam bentuk sekarang. “Semuanya masih asli dan terjaga”, jelas Karina, PR Manager hotel kepada Travelxpose sore itu. Kami merekomendasikan puncak hotel berlantai 9 ini yang menawarkan pemandangan lapang nan luas langit Jakarta sebagai tempat yang seru untuk kongkow. “Kami sengaja menyediakan beberapa kursi untuk bersantai di sini untuk para tamu yang ingin rehat dari keriuhan Jakarta sambil memandang kota ini seluas 360 derajat”, ujar Karina. “Sedangkan untuk suasana lebih intim, La Vue menawarkan koktil enak untuk sekadar menghabiskan senja di Jakarta”, tambah Karina lagi.

XposeSearch

Ads Banner 250x300 px

Ads Banner 250x300 px

Ads Banner 250x300 px

XposeCounter

103640
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
643
1043
7839
84517
35993
45233
103640

Your IP: 54.81.195.240
Server Time: 2017-11-25 10:37:01
Go to top